Tadi abis chatting sama temen, a new friend of mine. Dia cerita tentang masalah “hati”. Tentu maksud saya adalah cinta (apalagi?). Ngomong-ngomong tentang cinta, temen baru saya ini kayaknya agak sensitif, maksud saya dia lebih ekspresif untuk mengungkapkan perasaan/emosi. Jadi bisa ditebak, melupakan cinta di masa lalu agak sedikit berat.
Terus, menilik ke masa lalu saya (yang warna warni mejikuhibiniu), kok saya engga gitu ya? Ada sih, pengalaman-pengalaman patah hati, lebih dari sekali malahan. Tapi paling lama itu sebulan (more or less) untuk melupakan. Bahkan salah satu mantan pacar dulu bilang, saya itu gampang buat ngelupain orang. Waktu itu sih sebel denger kalimat itu, tapi sekarang malah bersyukur (kalo dikorelasikan dengan pengalaman temen baru saya itu).
Heeee.. jadi lupa. Saya punya temen yang gak bisa ngelupain mantan pacar sejak 5 tahun lalu lho. Goodness…
Balik lagi ke topik, jadi sebenernya gimana ya? Saya merekomendasikan temen baru saya itu untuk meng-ikhlaskan masa lalu. The question is, what is ikhlas. Saya engga begitu tahu arti hakiki nya, belum ketemu di buku soalnya.. hehe. Susah-susah gampang jadi pendengar yang baik. Disatu sisi kita mau dong kasih saran ke saudara yang membutuhkan. Disisi lain, terkadang ilmu belum mencukupi untuk memberikan saran yang berguna (hiks).
Semoga dia dikasih petunjuk, gimana penyelesaiannya. Maaf ya gak bisa bantu banyak, I wish I could.