Jatuh cinta adalah salah satu perilaku atau keadaan otak yang paling tidak rasional yang tidak terbayangkan, baik bagi laki-laki dan perempuan. Otak menjadi “tidak logis” dalam gelora asmara baru itu, sehingga otak - secara harfiah- buta terhadap kekurangan-kekurangan sang kekasih. Ini adalah keadaan di luar kesadaran. Jatuh cinta secara menggebu atau yang disebut kasmaran itu sekarang menjadi keadaan otak yang terdokumentasi, yang berbagi sirkuit-sirkuit otak dengan keadaan obsesi, mania, mabuk, haus dan lapar. Keadaan ini bukanlah suatu emosi tetapi memperkuat atau melemahkan emosi-emosi lain. Sirkuit-sirkuit jatuh cinta ini pada hakekatnya adalah suatu sistem motivasi yang berbeda tetapi bertumpang tindih dengan area dorongan seks di otak. Aktivitas otak yang membara ini berbahan bakar hormon dan senyawa kimia-saraf, seperti dopamin, estrogen, oksitosin dan testosteron.
Sirkuit-sirkuit otak yang diaktifkan saat kita jatuh cinta sama dengan sirkuit-sirkuit dalam otak seorang pecandu narkoba yang sedang parah-parahnya mendambakan suntikan berikutnya. Amigdala (sistem siaga-rasa-takut di otak) serta anterior cingulate cortex (sistem kekhawatiran dan berpikir kritis di otak) benar-benar dimatikan ketika sirkuit-sirkuit cinta sedang bekerja penuh. Keadaan yang hampir sama terjadi bila orang meminum ecstasy: kewaspadaan yang normalnya dimiliki manusia terhadap orang yang tak dikenal dimatikan, dan sirkuit-sirkuit cinta dihidupkan. Maka, cinta asmara sebenarnya adalah mabuk Ecstasy yang alami. Gejala-gejala klasik pada awal cinta juga serupa dengan efek awal narkoba, semacam amfetamin, kokain dan candu seperti heroin, morfin dan OxtContin. Obat-obatan ini memicu sirkuit imbalan di otak yang menimbulkan pelepasan dan efek kimiawi yang serupa dengan efek asmara. Sebenarnya, gagasan kalau orang bisa ketagihan cinta ada benarnya. Pasangan-pasangan kekasih, khususnya dalam enam bulan pertama, mendambakan perasaan ekstasi dari kebersamaan dan mungkin merasa sangat saling tergantung. Penelitian atas cinta yang membara memperlihatkan bahwa keadaan otak ini bertahan kira-kira enam hingga delapan bulan. Keadaan ini begitu kuatnya sehingga kepentingan, kebahagiaan, dan daya hidup orang yang dicintai itu menjadi sama pentingnya atau lebih penting daripada kepentingan, kebahagiaan, dan daya hidup diri sendiri.
Selama perpisahan fisik dengan orang yang dicintai, ketika menyentuh dan membelai tidak mungkin dilakukan, timbullah suatu kerinduan yang mendalam, seperti rasa lapar. Sebagian orang bahkan tidak sadar betapa terikatnya atau betapa cintanya mereka sampai mereka merasakan sentakan saat orang yang dicintai tidak ada. Kita terbiasa menganggap kerinduan ini hanya bersifat psikologis, tetapi sebenarnya bersifat fisik. Sesungguhnya, otak berada dalam keadaan kekurangan narkoba. Begitu penyatuan kembali terjadi, semua komponen dalam ikatan cinta itu dapat dipulihkan oleh dopamin dan oksitosin. Serbuan oksitosin-dopamin sekali lagi menekan kegelisahan dan kesangsian serta memperkuat sirkuit-sirkuit cinta di otak. Dengan kata lain, kalau oksitosin dan dopamin dalam jumlah besar sedang bersikulasi, maka pertimbangan anda menjadi kacau. Hormon-hormon ini mematikan pikiran skeptis.
Dorongan dasar untuk membentuk keterikatan asmara ini sudah tertata kuat dalam otak. Perkembangan otak dalam rahim, jumlah asuhan yang diterima seseorang semasa bayi, serta pengalaman emosi menentukan variasi sirkuit otak untuk mencintai dan memercayai orang lain. Kesiapan orang untuk jatuh cinta lalu membentuk keterikatan emosi dapat dipengaruhi oleh variasi sirkuit otak yang disebabkan oleh pengalaman dan keadaan hormon di otak. Stres dalam lingkungan dapat membantu atau menghalangi terbentuknya keterikatan.
*Copied from the Female Brain*