Serabutan

“Untuk orang-orang seperti kita, kita hanya miliki mimpi dan cita-cita”.

Kurang lebih begitu penggalan kalimat yang saya baca dari buku Sang Pemimpi, buku kedua dari Laskar Pelangi. Saya jadi ingat sama diri saya, beberapa teman yang saya kenal, atau anak-anak yang saya lihat kemarin di Yayasan Al Huda. Mungkin setelah dipikir-pikir, kalimat ini lebih pantas untuk dikenakan oleh kita semua. Mungkin.

Agak sedikit mendidih saat “bertukar pikiran” dengan seorang teman beberapa waktu yang lalu. “Bertukar pikiran” nya yang sempit dan hopeless tentang kemiskinan yang tak kentara dimatanya. Yang kemudian bermimpi akan korupsi maha dahsyat jika ia memiliki posisi seperti Soeharto. Mengidolakan beliau karena teknik pengkorupsian yang berhasil diterapkan selama puluhan tahun dan mencanangkan strategi antisipatif yang juga efektif selama puluhan tahun.

Kemudian, menantang manusia-manusia dari bumi pertiwi yang memiliki niat mulia untuk membantu ala kadarnya nasib anak-anak bangsa yang tidak beruntung. Seorang teman itu bertanya, “Apa nasib bangsa berubah dengan bantuan-bantuan mereka? Omong kosong!”. Mendidih tidak kalian? Saya sih udah merah padam karena rasanya ubun-ubun saya sudah mengeluarkan asap.

Sampai segitunya untuk bercita-cita menjadi kaya, seolah-olah kemiskinannya berada di garis paling bawah. Padahal saya jamin, dia pasti belum pernah makan nasi yang digoreng dengan bumbu vetsin saja (untuk menghindari nasi + garam, jadi teman kos saya dulu menggoreng nasi dengan bumbu vetsin). Atau seperti mereka mungkin berhari-hari tidak makan. Tapi sutralah ya. Meladeni mulut seperti ini rasanya belum penting-penting amat.

Kekuatan mimpi itu bisa menjadi luar biasa atau luar binasa. Saya rasa tergantung dari jiwa si pemimpi, akan tercipta mimpi seperti apa di otaknya. Yang buat saya mendidih saat “bertukar pikiran” dengan seorang teman itu adalah umurnya yang masih di garis produktif. Sekitar 26-27 tahun. Saya hanya berdoa semoga dia tidak diberikan amanah kekuasaan sebelum dia berubah. Jika dengan mudahnya saya menemukan satu orang anak muda yang berpikiran seperti itu, jangan-jangan berjuta-juta anak muda lainnya pun memiliki pemikiran yang sama. Miris..

Kemarin saya dan beberapa rekan silaturahim ke rumah Bapak Laksmo. Kira-kira beliau berumur 60-65 tahun. Ceritanya, Bapak Laksmo ini adalah salah satu tokoh di lingkungan saya yang patut kami teladani. Tujuan dari kunjungan, selain untuk silaturahim juga untuk transfer ilmu dan re-charge semangat hidup.

Sewaktu Bapak Laksmo muda, beliau mati-matian mencari definisi agama dan Tuhan. Segala buku ilmu pengetahuan dan kitab suci dipelajari tanpa ampun. Segala manuskrip yang sudah dipelajari oleh orang-orang Barat sana ditelaah oleh beliau. Sampai pada akhirnya, seperti yang bisa tebak, beliau menemukan Islam. Nah, ceritanya beliau ini memiliki misi yang sama dengan Ibu Thamrin yang saya ceritakan kemarin. Beliau juga berkolaborasi dengan Ibu Thamrin, walaupun masing-masing tidak begitu saling pengaruh-mempengaruhi. Atau dengan kata lain, masing-masing memiliki program masing-masing. Ah, saya rasa berlomba-lomba untuk kebaikan itu kan bagus. Daripada saling menjegal untuk mengejar harta.

Bapak Laksmo mengatakan bahwa tidak ada kebahagiaan lain bagi dirinya dan istri jika dapat membantu sesama. Terdengar klise ya? Tapi saya melihat betul guratan kebahagiaan beliau dan istrinya saat berkunjung kemarin. Lalu seorang rekan yang sudah berjibaku membantu Pak Laksmo dari sejak beberapa waktu yang lalu berkata bahwa beliau pun menyediakan satu kantor khusus untuk anak-anak muda penggerak. Facilities for free yang di sponsori oleh beliau. Subhanallah, luar biasa.

Sejujurnya, saya lalu berpikir bagaimana pendanaan beliau selama ini ya? Menurut informasi yang saya dapatkan, beliau bekerja sama dengan JNE. Itu lho, freight forwarder alias jasa kirim antar nusantara. Tapi beliau juga memakai dana pribadi, kata rekan saya itu.

Ada cerita menarik kemarin. Jadi, beberapa tahun yang lalu beliau pernah menginjak tanah Palestina dengan beberapa rekannya. Beliau melihat satu kota yang sangat terang benderang di waktu malam. Tetapi tidak terlihat satu manusia pun yang terlihat di jalan kecuali panser-panser yang berkeliaran. Pesan dari salah seorang saudara di sana adalah, “Kami berperang sendirian”. Nah, beberapa waktu berselang, hingga akhirnya beliau dan beberapa orang rekan beliau berkunjung ke Brunei untuk menemui salah seorang Sultan. Saya tidak tahu (atau lupa) apa tujuan dari kunjungan beliau kesana. Yang pasti, beliau terkesan dengan kekayaan sang Sultan. Gagang pintu dari emas, ukiran-ukiran yang menakjubkan, kamar suite yang luar biasa besar, makanan yang berlimpah, dll.

Kesimpulan yang dapat beliau ambil dari perjalanan tersebut adalah, “Sebagian orang mampu bin kaya raya sudah merasa nyaman dan nikmat dengan kekayaannya. Ini yang mereka pertahankan dan pada akhirnya membutakan mata mereka yang kaya dari mereka yang membutuhkan bantuan. Atau yang lebih memprihatinkan, demi mempertahankan kekayaan, mereka menjadi “powerless“. Merasa takut bahwa kekayaan itu akan sirna karena mengetahui risiko dari pihak luar jika mereka memberikan bantuan.”

Ah, itu korelasinya.

Kembali kepada cita-cita dan mimpi. Saya berharap semoga Pak Laksmo dan Ibu Thamrin memiliki penerus-penerus muda yang tersebar di seluruh pelosok nusantara. Pola pikir dan semangat beliau-beliau ini sudah sewajibnya menular kepada kita, sang generasi muda. Rasanya kita jangan hanya peduli dengan regenerasi kekuasaan. Orang-orang maha penting seperti Pak Laksmo dan Ibu Thamrin ini pun sangat perlu untuk diregenerasikan. Efeknya nanti akan terlihat ke anak, cucu, cicit kita kelak. Supaya Indonesia kelak benar-benar menjadi surga dunia dengan segala fasilitas alam yang ada.

7 comments:

  1. bagus, 2. June 2008, 8:32

    “Apa nasib bangsa berubah dengan bantuan-bantuan mereka? Omong kosong!” :angry:

    Peran aktif satu orang saja dan sekecil apapun, bisa membawa perubahan besar. Karena dia bisa menular. 1 jadi 2, 2 jadi 4, dst. Nggak berhenti di 10 (emang perkalian 2 :D )

    Panser dan gagang pintu emas… padahal katanya kan kita umat yang satu :(

    Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai dari sekarang.

    Sekarang saya blum mandi ;)

     
  2. hanggadamai, 2. June 2008, 11:55

    semoga menular kepada kita semua

     
  3. wirda, 3. June 2008, 12:55

    Jeng seriusan dia begituh???? :nerd: Jadi pingin nyanyi racuuun…hilang akal sehatnya >.<

     
  4. agus cuprit, 3. June 2008, 15:08

    assalam..

    wah makin banyak yang mau ambil peran membangun umat…ayo, sapa lagi…???!!!

    btw, Non Santi…kayaknya perlu tuh provokasinya yg lebih menggigit lagi…

    terakhir, gmana kabar? masih selalu mengedar dari ruang 3×3nya (kamar, maksud saya)? maaf saya jarang OL (hampir sebulan sejak kita chat), saya dari jakarta-batam-padang. tapi skrg di batam kok. dan insyaallah OL rutin lagi…

    wassalam

     
  5. Ajeng, 7. June 2008, 5:12

    Siapa tuh orangnya tet??, mana orangnya!? *sambil gulung tiker , eh, gulung lengan baju*
    :roll:

    omong- omong , salam buat pak laksmo ya tet :p

     
  6. catur, 7. June 2008, 10:57

    Ya.. setiap orang tidak harus jadi Pak Laksmono.. tapi harus menjadi seorang pejuang…

     
  7. nunik, 9. June 2008, 10:09

    sepakat banget mba. pertama saya juga suka banget sama buku sang pemimpinya andera hirata. kedua,kita mempunyai kekhawatiran yang sama mba. temen2 disekitar saya yang hanya memikirkan diri mereka saja. tinggal sedikit yang memiliki kepedulian pada sesama. saya sedih melihatnya. bagaimana nasib indonesia selanjutnya kalo generasi penerusnya sepert ini? saya sering bilang kepada teman2 saya, dlam hidup kita akan lebih abik ketika kita bermanfaat utk orang lain. kalaupun tidak bisa memberikan manfaat minimal jangan mendzolimi orang lain. misalnya kalo mau jadi orang kaya, ya bagusnya kekayaan nya bisa memberikan kemanfaatan buat orang lain terutama yang membutuhkan, misalnya spt pak thamrin itu. tapi kalopun gak mau, ya kalo mau jadi kaya jangan sampe pake cara yang mendzolimi orang lain. misalnya ya korupsi itu.. sedih ya mba… apalagi sekarang ini orang yang punya niatan baik jadi dianggap aneh dan orang yang niatan nya jahat malah dibilang biasa.. bener juga kata ronngo warsito. zaman sekarang uda edan. orang baik jadi aneh. tapi..aku cuma inget kata ALLAH SWT aja. : “sebaik-baik manusia adalah yang bermnafaat untuk orang lain..” amin ya robbal alamin..

     
:rose: :wink: :tears: :?: :girl: >:) :D (:| B-) @-) :- :-> 8-} :puke: :-h :chicken: =(( :-f /:) :)) :-B :(( :bald: :nerd: :skull: :-j #-o :-? :funny: :-< :blush2: #:-S :boy: :bow: :^O :) :-S :-e :-* :idea: :mad: :wtf: :-/ :alien: ;;) =)) :pray: :!: ;) :-SS :( :d :D/ :x 8-> [-( :monkey: :lol: :money: =D> I-) :party: :drool: =; :h :)] :g :flat: :dunno: :-$ :blushing: :-v ~x( :pumpkin: X-( :stars: :| :arrow: :roll: ;)) 8-| :devil: :-w :cow: L-) :-c :o) :mrgreen: :-m O:-) :alien1: >:P :devilish: :-p <):) :-O

Write a comment: