Teman Lama (lagi)
Ditengah riuh pekak ketikan keyboard yang menghentak karena pekerjaan yang belum rampung padahal tugas baru sudah di depan mata.. (curhatnya berlebihan deh kayaknya..), tiba-tiba pintu kamar saya terbuka. Engga sih, bukan hantu kok. Apalagi kecoa. Masa kecoa bisa buka pintu? Hihi.
Kakak saya yang tiba-tiba membuka pintu kamar saya. Dengan kacamata dan mimik muka yang, “Ada apa?”, saya menatap kakak saya yang tiba-tiba pergi begitu saja dan membiarkan pintu kamar saya terbuka.
Huh! Jahil!, pikir saya dalam hati. (Saya tidak suka kalau pintu kamar saya terbuka).
Lalu, tiba-tiba.. jreeeeengggggg!
Sesosok perempuan yang sering dibilang kemayu oleh pria-pria yang melihatnya sekelebat-dua kelebat, tiba-tiba muncul sambil nyengir sejadi-jadinya (aslinya sih tidak kemayu, percayalah!). Dia adalah sahabat saya sewaktu SMA, dan berlanjut hingga kami bekerja (di perusahaan dan lokasi yang berbeda), hingga sekarang. Sahabat saya ini pernah tinggal satu atap dengan saya selama dua tahun lamanya. Adalah salah seorang yang mengikuti grafik perkembangan (dan kemunduran) diri saya dari sejak SMA hingga sekarang.
Juga adalah salah satu sahabat terbaik saya, yang pernah suatu malam “menampar” saya dengan kata-katanya yang (selalu) tajam bak pisau untuk nyembelih korban Idul Adha. Yah.. waktu itu beliau membandingkan saya antara dulu dan sekarang. Dulu sih imut-imut.. kok sekarang jadinya amit-amit. Beliau ini juga yang “menyeret” saya ke tempat yang seharusnya dan menghapuskan air mata saya ketika hati ini sedang gelap dan tak tentu arah. Orang yang betul-betul mengetahui kelemahan-kelemahan saya dan tidak berusaha untuk mengaburkan fakta-fakta itu. Salah satu sahabat yang mampu membangkitkan semangat saya justru dengan metodenya yang dibilang “sadis” oleh sepupu saya. Hehe.
Sahabat saya ini sengaja mengadakan inspeksi mendadak ke rumah saya karena sudah lama kami tidak bertemu. Beliau sibuk di kantor, saya pun sibuk disini. Berkat kejadian kehilangan handphone waktu lalu, alhasil kami kehilangan kontak. Sebetulnya gampang saja untuk berkomunikasi (terimakasih kepada Friendster).. tapi ya itu.. kan sok sibuk. Hehe. Alhamdulillah, beliau datang di saat yang tepat.
“Lho? Ada apaan? Kok malem-malem?”, tanya saya sambil nyengir kuda.
“HARUS kesini! HARUS silaturahim”, ujarnya sambil menyerahkan sebungkus jeruk manis.
Hehe. Subhanallah, saya bisa punya sahabat seperti dia. Astaghfirullah, kok perilaku saya tidak seperti beliau ya?
Semoga menjadi lebih baik.. Amin.
Tidak butuh waktu lama sampai topik pembicaraan kami mengarah ke “sana” lagi. Hufff.. lagi-lagi topik menikah. Satu per-satu, beliau mengumumkan nama-nama teman yang akan melangsungkan. Saya sih tersenyum simpul pramuka aja (udah biasa menghadapi teman-teman yang gelisah kayak gini). Lantas beliau menceritakan tentang rencananya untuk mengganti status Nona menjadi Nyonya tahun depan. Wah… ini baru berita! Hihi.
Satu hal yang membuat saya khawatir tentang beliau, adalah kecenderungannya untuk “kabur” saat situasi menuju ke”sana” sedang serius. Semoga tidak terulang lagi, karena saya sungguh berharap beliau cepat menyusul teman-teman kami yang sudah menyandang gelar Nyonya dan Ibu itu.
Lalu beliau memfokuskan diri ke saya. Menanyakan perihal “kapan” itu ke saya. Glek!
Mendengar jawab saya yang, “Saya sih nunggu aja.. hehe. Doain ajaa.. hehehe”, beliau menatap saya lurus-lurus dan tajam-tajam. Beliau menyesali tindakan saya yang tidak segera meng-iya-kan tawaran beberapa waktu yang lalu. Duh.. bukan begitu.. tapi memang jalannya tidak diarahkan oleh Nya kesana. Bukannya engga mau, bener deh. :eyelash:
Semoga prosesmu dilancarkan, niat diluruskan, hati dimantapkan, hambatan dan masalah dapat terselesaikan, sehingga walimah segera diselenggarakan. Amin.
Ah iya, saya juga menginformasikan kepadanya tentang undangan kumpul-kumpul SMA (mau dibilang reuni rasanya tak layak deh.. masa reuni bisa beberapa kali dalam setahun.. hehe).
Kepada Om Aji, Bapak Irsan (kali aja lagi pulang ke Jakarta.. hehe) dan Nyonya Srimarlina, mau dateng engga? Undangannya dari Armas, anak itu lagi keganjenan pingin ngumpul tuh. Katanya sepulang jam kantor aja, lokasinya seperti biasa - mana lagi selain Semanggi.
8 comments:



,
Salam buat … ya tet (salam selamat untuk persiapan pernikahannya, mudah2an beres semuanyah :wise: )
Trus…lo kapan tet??
eh salah..maksudnya :hehe:
“Semoga prosesmu dilancarkan, niat diluruskan, hati dimantapkan, hambatan dan masalah dapat terselesaikan, sehingga walimah segera diselenggarakan. Amin.”
Dan saya berkata, “Aamiin, dan untukmu juga.” (serasa malaikat)
Lalu, tiba-tiba.. jreeeeengggggg!
bisa bunyi kayak gitu ya…
hmm..emang kenapa kalau pintu kamar terbuka non? takut masuk angin ya, heheehe
hmmm…jadi kapan non kamu? apa nunggu saya jemput nih? kekekeke
jemput calonnya maksudku :P
*kabuurr
Hola.. Sekarang Irsan sten-bai aja kok di Jakarta. Jadi kapan? Kapan nikah dan kapan kumpul2nya?
*maaf… baru baca pesan Santi senin siang ini*