Suara Teman Lama
Tadi saya dihubungi oleh teman lama yang hampir tidak pernah mengadakan kontak ke saya sejak tahun kemarin, kecuali satu kali, dan itupun lewat pesan di Friendster saya. Pesan yang dia tulis waktu itu agak sedikit membuat saya haru biru, karena dia mengungkit cerita lalu di bukit berbatu (ekekekekkk). Maksud saya, cerita sewaktu kami masih sering bersama. Kejahilan² kami sekitar dua tahun yang lalu. Ah, suka dan dukanya banyak. Apalagi teman saya itu tergolong perempuan yang punya radar sensi(tif) yang lumayan tinggi. Jadi wajarlah kalau hanya orang-orang tertentu saja yang bisa akrab dengan dia.
Setahun yang lalu juga, dia pindah lokasi tempat tinggal. Ini salah satu faktor kami tidak pernah lagi bertemu. Selain itu, kesibukan dia dan saya tidak ada titik temu. Boro-boro mau berlibur, untuk menikmati hari wiken seperti manusia normal saja susah. Dulu.. duluuuuu sekali, saya dan dia pernah berencana untuk mengadakan traveling ke suatu kota berdua. Hanya berdua saja. Meninggalkan hape dirumah kalau perlu (rasanya sih engga mungkin kalo ini). Intinya minggat dari Jakarta (biar kesannya tambah dramatis.. hehe).
Saya kangen berat sama dia. Kangen judesnya, celetukan-celetukan pedasnya, kesinisiannya dengan lirikan lawan jenis (hihi), kadar tengsin nya yang berlebihan, caranya membangkitkan semangat saya, bahkan pada saat dia melontarkan kritikan terhadap saya yang pasti membuat meja bergetar (karena pasti saya ketuk-ketuk meja kalo lagi mau defense.. haha). Pokoknya semua hal, baik yang pahit dan manis, semuanya saya rindukan.
Ini adalah satu-satunya perempuan yang pernah mengusulkan untuk diadakannya “pertemuan”, terutama ditujukan untuk teman-teman perempuan lainnya yang masih berstatus single dan belum ada rencana menikah dalam jangka waktu dekat. Rencananya dia mau membahas tentang “Refleksi Diri: Apakah Karena Saya, Atau Karena Mereka, Atau Karena Memang Belum Saatnya?”. Saya cuma tertawa aja melihat gelagatnya yang (sok) panik itu. Tertawa, tapi dalam hati sih membatin (haha!). Ide yang dia ucapkan setahun yang lalu ini jelas tidak terwujud karena banyak teman-teman kami yang protes. Kenapa banyak yang protes? Karena perempuan (setidaknya teman-teman saya yang perempuan) sesungguhnya sungkan membicarakan ini. Kebanyakan hanya disimpan rapat-rapat saja. Atau, kalaupun dibicarakan, pasti tidak menyeluruh. Ibaratnya, hanya di kulitnya saja.
Hingga sekarang, kami selalu gagal merencanakan untuk bertemu. Bukan karena menghindari topik satu itu, tapi karena memang belum ketemu timing yang pas. Sewaktu tadi berbicara dengan saya melalui telpon, teman saya ini mengajak saya untuk bertemu dengan beberapa teman lainnya pada minggu kedua bulan ini. Membicarakan acara walimahan teman saya yang satu lagi di Palembang. Maunya sih, kita pingin dateng, sekalian liburan, sekalian reuni kecil-kecilan. Lalu, berceritalah teman saya itu dengan bawelnya mengenai perjuangannya untuk mendapatkan nomor baru saya. Kalau dipikir-pikir, mungkin ada sekitar 4 kali saya ganti nomor. Heeee :green:
Maafkan ya. Saya itu kan ceroboh dan gampang dipengaruhi *kalo tentang masalah tarif telpon murah*. Jadi kalau tidak nomor hape/hape yang hilang, berarti saya dengan sengaja mengganti nomor demi kelangsungan dompet. Pun juga dengan tidak sengaja lupa update telpon hape teman-teman (Hape saya itu very low end, jadi merepotkan kalo mau pindah2in phonebook. Hape2 very high end itu tidak ditakdirkan untuk saya karena secara tidak sengaja sering saya aniaya
).
Sekilas, saya ceritakan apa yang terjadi dengan saya akhir-akhir ini.
Katanya,
“Haha! Bisa samaan gitu sama gw! Wahh harus ketemu beneran ini!”
Kenapa sih.. sukanya nyama²in aja.
. Tak apalah. Yang jelas, saya mau banget ketemu sama anak itu.
16 comments:



,
hee
dihubungi dong mas yhadee, lewat imel aja dulu :eyelash:
haha… met reunian yah mbaak…
Pokoknya harus ada postingan tentang pertemuan itu oke
wew..selamat ketemuan ya..memang puas kok bisa ketemu dengan teman lama yang satu pandangan :cool:
waaah…enaknya bisa ketemu teman lama lagi
@ anggangelina: hehe makasi
@ mas landy: rebeeesss!
@ febra: satu pandangan sih gak juga.. cuma itulah, saling melengkapi. dia bawel, saya kan .. juga bawel sih..
@ indo: ho’oh.. :eyelash:
merit atau tidak emang hak kita sih ya jeng..mungkin kan cuma sekedar belum aja..aduuhh senangnya reuni..
:green:
adu adu
jadi pengen ketemu ma temen lama ney
hiks…………
suara teman baru menantimu.. he..he…
I was with an Indonesian girl on a flight - Frederika - and she’s now a character in my book. I once could speak some too.
@ aRya:
sama dong..
@ ROE: hehe.. saya mendengarnya kok :eyelash:
@ jameshigham: I’ve read your synopsis. I think it’s a great novel
Santi - post for you
@ mas ario: kan sini sibuk mas.. *siap2 kabur naek delman sblm ditimpuk*
@ jameshigham: hee.. flattered here..