Melayani dari Hati
Ada tag line dari perusahaan tempat saya bekerja dulu:
“Melayani dari Hati”
Sewaktu sosialisasi tag line ini, saya diinformasikan mengenai pentingnya Melayani dari Hati. Anda pernah dengar tulus? (Bukan sejenis umbi). Tulus hati dalam melayani orang lain, maksud saya. Melayani dengan senyum yang tulus terpancar dari hati, menolong tanpa mengharapkan imbalan karena berniat menolong dari hati (red: uang pelicin atau maksud-maksud terselubung lainnya *misalnya: supaya bisa dijadikan pacar* hihihi). Sebuah tag line yang indah, bukan begitu sodara-sodara? Iyah.. begitu.
Efek sampingnya bagaimana? Jelas besar. Terkadang kita lebih memilih untuk duduk di rumah makan yang sederhana tetapi dilayani sepenuh hati oleh si penjual. Padahal makanannya engga enak-enak banget. Lalu, apa yang sebenarnya dicari oleh kastemer (customer)?



,