Orak Arik
Beberapa hari terakhir ini, saya jalan-jalan di blogosphere dan menemukan beberapa tulisan-tulisan yang menarik seputar perempuan. Beberapa hari terakhir ini, tulisan-tulisan itu seperti berdengung di telinga saya. Tentang Ibu dan ASI - Ajeng, tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) - Angga , sampai tentang Feminism - James.. sayup-sayup terdengar kalimat dari geng ikan hiu di film Finding Nemo, “Fish are friends, not food” (intermezzo yang tak penting).
Ada apa dengan wanita?
*menghela nafas panjang banget*
Saya menghormati kaum pria. Bahkan berniat untuk mencintai satu pria nantinya (ya iyalah). Bagi saya, pria adalah seperti layaknya hakim yang memimpin pengadilan, presiden yang memimpin suatu negara, dan semacamnya. Pada intinya, pria-lah yang sudah ditakdirkan untuk berada di barisan paling depan. Mengendarai kuda putih dengan sebilah pedang di tangan kanan dan seikat mawar untuk saya di tangan kirinya (hihi - awas jatoh!).
Pada akhirnya, saya, seorang Santi yang manis dan baik hati ini, akan berlindung di balik jubahnya. Saya akan bersandar di pundaknya dan akan menyambut uluran tangannya.. (ehem.. romantis dikit, mumpung gak ada yang larang).
Pria adalah kekuatan, sejatinya kekuatan. Dari tangannya bisa tercipta sebuah rumah yang kokoh dan nyaman sebagai tempat berlindung. Pria juga adalah sebetulnya tulang punggung yang menyangga wanita dan keluarganya. Coba bayangkan kalau badan anda tidak ada tulang punggung. Bingung kan? Saya juga.
Saya mengagumi ke-logis-an alam pikiran pada pria. Betapa pria dapat mengambil keputusan dengan menggunakan “kalkulator” pikirannya tanpa dipengaruhi tangisan cengeng. Saya pun mengagumi taktik mereka dalam menyikapi hidup, serta kekerasan hatinya yang menurut saya melambangkan kegagahan. Saya mengagumi pria, itu pastinya.
Lalu bagaimana dengan wanita?
Terlepas dari sebuah fakta bahwa saya adalah seorang wanita, pun saya mengagumi sifat-sifat kewanitaan yang seorang wanita miliki. Wanita adalah selayaknya benang. Halus dan lentur. Sekarang bayangkan jika pakaian yang anda kenakan sekarang adalah dari kayu, bukan rajutan benang.
Untuk merobek-robek pakaian pun tidaklah segampang menjatuhkan kaca atau mematahkan kayu. Wanita identik dengan kehalusan perasaan dan emosi-emosi yang justru dibutuhkan oleh pria. Wanita juga akan terus bergelut dengan perasaan-perasaannya, itu pastinya. Moderennya, wanita akan mencoba merasionalkan apa yang dirasakannya. Yang membuat fatal adalah, jika perbandingan yang digunakannya adalah pria. Kenapa pria bisa begini dan begitu. Kenapa pria bisa. Lalu “kita”?
Salah satu sifat sejati seorang wanita, baik itu di kota dan di desa, dari kutub ke kutub, adalah pecemburu. Selamanya, wanita akan mendeteksi yang manakah lawan dan kawan. Wanita juga sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang penyelidik ulung. Hanya wanita yang bisa secara alami dan naluriah mendeteksi intonasi-intonasi kebohongan, raut wajah dan gerak-gerik lawan. Jika anda (pria) pernah terheran-heran karena pasangan anda pernah mengungkapkan kebohongan anda, maka anda pasti mengerti maksud saya. Hal ini bukanlah karena sihir si Nirmala atau jampi-jampi Mbah Dukun. Tapi ini adalah sifat alami wanita, seorang pendetektor ulung alami yang bermodalkan sensor di otaknya yang tajam.
Mencemburui wanita idaman lain dari pasangannya itu masih terbilang wajar. Tapi terasa janggal jika wanita mencemburui pria. Seperti piring yang cemburu dengan gelas. Janggal bukan?
Merenungi ketiga artikel yang saya sebutkan di atas tadi, lantas terpikirkan oleh saya yang manis ini, apakah sudah semakin banyak wanita (dan pria) yang kehilangan jati dirinya? Seorang ibu yang rela mencari figuran utama untuk ditempatkan di rumahnya, seorang suami yang menyalahgunakan kekuatan fisiknya, dan seorang wanita yang cemburu berat dengan pria.
Wanita justru semakin indah dan bersinar karena kehalusan hatinya. Dan pria justru akan semakin terlihat seperti ksatria berkuda putih saat ia dapat menggunakan kekuatannya untuk melindungi.
23 comments:



,
wahh ini toh yang di di ketik selama ampir 2 jam tadi te.. berapa buku yang di buka ? hehehe..
setuju ma yang ini te..
cape ah ribut mulu ma lo..
untuk hari ini kita damai ok.. (takut di kasi icon x( lagi.. hehehe)
*ngeloyor pulang.. mari mak.. wkwkwk
*
gak usah berlebihan ah, ini kan cuman beberapa menit doang ngetiknya *siul2*
selama itu lo baca postingan gw, komentar lo cuma setuju doang? beh.. dasar naga.. :cool:
hmm..disisi lain Pria diciptakan untuk memburu bukan diburu..dan wanita kebanyakan harus menunggu, padahal yang namanya menunggu itu adalah sesuatu yang menyebalkan
ketika laki-laki takut untuk mengatakan perasaannya kepada wanita, biasanya akan menyesal seumur hidup ketika sang wanita telah menjadi milik orang lain, apalagi ternyata wanita tersebut memiliki perasaan yang sama.
Tapi yang namanya wanita tapi lebih cepat dewasa pemikirannya dibandingkan pria.
oh ya..bukankah ada pepatah * behind a great man, there’s was a great woman”
jadi berbanggalah kalian wahai para wanita
Gue rasa pria juga pendetektor ulung. perbedaannya hanya di reaksi. Untuk penjelasan lebih lanjut sual hormon wanita dan pria silahkan hubungi dokter terdekat.
“apakah sudah semakin banyak wanita (dan pria) yang kehilangan jati dirinya?”
Gue rasa orang-orang udah kelamaan terkikis sama keadaan… semua jadi blur (bukan oasis =p) seketika kalu denger pertanyaan yang diharapakan dapet jawaban noir sur blanc.
Biar begitu, gue setuju sangat dengan alinea terakhir.
…Seorang ibu yang rela mencari figuran utama untuk ditempatkan di rumahnya, seorang suami yang menyalahgunakan kekuatan fisiknya, dan seorang wanita yang cemburu berat dengan pria…
Perspektif anda sangat hebat dan anda menceritakan yang sebenarnya.
…ketika laki-laki takut untuk mengatakan perasaannya kepada wanita, biasanya akan menyesal seumur hidup ketika sang wanita telah menjadi milik orang lain, apalagi ternyata wanita tersebut memiliki perasaan yang sama…
Febra benar juga.
@ febra:
ya ya..
@ ajeng: ada sih jeng beberapa yang begitu. tapi itu pria yang “tak biasa”. utk lebih jelasnya, tanya toko sebelah :green:
@ jameshigham: :wise: saya rasa banyak wanita yang berpikiran seperti itu..
Wah kok aku mencium aroma promosiin diri ya , bukannya di kau sudah ada, waduh jangan bilang kamu mau 2,3,4 ya he..he..he.. Aku selalu salut deh dengan gaya tulisan kamu, runtut dan mengalir, banyak pelajaran yang bisa diambil contohnya tulisan ini , hebat jeng
satu lagi tentang wanita,
buat saya wanita itu gampang untuk setia, tapi susah untuk berusaha percaya..
@ mas landy: He?? Masa sih mas? Waduh.. padahal saya kan lagi gak gelar promo..hehe. Iyah mas, udah ada kok. Lagi ditungguin sama saya.. doakan aja spy cepat dipertemukan..
Hehe.. saya kan nyontoh cara penulisanmu mas.. :eyelash:
@ stey: Bentar, stey.. *buka album2 lama*
Hehe.. ada benarnya. Menurutku sih, kesulitan wanita utk mempercayai lawan jenis itu biasanya karena terjadi perubahan2 sikap dari pria. Seringkali perubahan2 itu pun tidak disadari olh pria. Malangnya, hal ini udah ditangkap duluan oleh wanita. Akhirnya gegabah utk mengambil kesimpulan. Akhirnya lagi, pd saat wanita sudah kecewa (walaupun dia bisa utk terus setia) akan tjd perubahan2 sikap dari wanita yang ujung2nya akan menimbulkan tanda tanya dari pria. Ah.. lagi2 kuncinya adalah komunikasi..
yah..itu mah lebih detail chat yg kemaren rasanya.. :green:
:marked: keliatane yg nulis nunggu “pahlawan” untuk memproklamirkan kemerdekaannya menghidari kejamnya kerja rodi oleh para kompeni..
ex:
Proklamasi
(biar santi yang ngisi sendiri)
Jakarta, (tgl berapa ya??)
Atas nama blogger diseluruh dunia
Kumbang-Mawar merah
*kabur…(naik kreta argo bromo)…
@ KupuKupu: iya yaa.. lagi nunggu “pahlawan” yang mau memerdekakan saya dari kejamnya kerja rodi.
Ya ya ya.. kumbang ya.. hihi.. *awas kamu!*
Ini
“…pria justru akan semakin terlihat seperti ksatria berkuda putih saat ia dapat menggunakan kekuatannya untuk melindungi”.
dan ini
“Behind every great man there’s a great woman”
ksatria juga manusia yang terkadang boleh bermanja-manja.He3x…
memang pernikahan itu berat penuh cobaan, harus lebih mendekatkan diri kepada Allah supaya diberikan kemudahan melewatinya.
manusia dibentuk oleh lingkungannya,
sebagian dari wanita “modern” merasa bahwa kesetaraan berarti setaradalam semua hal, yang jelas sangat tidak mungkin. Mungkin lebih tepat keadilan gender (karena saya rasa wanita masih banyak diperlakukan tidak adil dalam konteks adat, mitos dan hal tidak jelas lainnya).
sebagian dari lelaki “modern” merasa bahwa kebebasan adalah segalanya. Dan menikmati hegemoni kekuasaan itu (siapa juga yang gak mau, itu murni ego -wanita juga memilikinya kan
)
Padahal bukan itu hakikat hidup (sok tau hakikat neh
tapi apapun itu, seorang perempuan dengan pemikiran cerdas seperti anda, layak mendapatkan lelaki yang sepadan dan bervisi luas.
u worth for it .. halah sok keminggris
-salam kenal-
wanita moderen dihadapkan oleh sebuah tantangan yang besar yakni salahsatunya materi
STOP kekerasan terhadap Wanita :hehe:
@ Bagus: “ksatria juga manusia yang terkadang boleh bermanja-manja”
dan wanita itu adalah ibu, kodratnya begitu :eyelash:
@ nexlaip: aminnnn!
@ icozya: amiiinnnnnn! hihi.. senang, banyak yang doain
@ resi bismo: juga laki2 mas.. materi itu udah jadi tantangan kita dari dulu..
@ indra1082: amin!
hidup damai saling menghormati aja dah

terlalu dalam..!!!
hehehehee
being here…..
you know what I mean….
oke….selamat berkarya terus..good luck
Waaahhh pas banget. Aku jg baru nulis tentang KDRT
tapi versi jayuz