Menikah (Lagi)
Saya cuma usil pingin buat postingan tentang ini, untuk mengisengi teman saya yang lumayan manis itu, Ajeng, tentang postingannya yang berjudul Indahnya Pernikahan. Omong-omong tentang ini, saya yakin pembaca (tsahhhhh! :green: ) ada yang senyam senyum sendiri, terutama kaum single - seperti saya ini (tanpa bermaksud menggelar promo).
Kenapa sih menikah? Ya secara kodratnya memang kita sudah diciptakan berpasangan. Tidak hanya kita - insan manusia (tsaahh lagi) - yang diciptakan berpasangan, tapi juga hewan, tumbuhan (hmm..?), bahkan siang pun ditemani oleh malam. Tul? Jadi keputusan untuk tidak menikah, jelas-jelas menyalahi kodratnya sebagai insan manusia yang sudah dilengkapi akal dan perabotan lainnya untuk… survive. Yap! Cara manusia untuk mempertahankan ke-eksistensi-annya di muka bumi adalah dengan menikah.
Suatu waktu saya pernah (secara tidak sengaja) mendengar penyiar radio yang mengabarkan tentang artis kenamaan Hollywood yang tengah hamil (apa melahirkan ya?) diluar nikah. Lalu si penyiar radio mengomentari bahwa memang sekarang tengah semarak di Hollywood sana bahwa artis-artis perempuan mendambakan seorang anak, tapi bukan suami. Dilanjutkan oleh penyiar, nanti kalau si anak besar dan akan menikah mungkin saja dia akan melihat ke orang tuanya (kalau orangtuanya masih pacaran) dan bertanya, “Pa, Ma, kalian kapan menikahnya? Ini saya besok mau menikah lho. Apa bareng aja?”.
Hal ini sudah terlihat di negara sana. Di negara kita? Wah.. maaf. Saya sudah jarang nonton tipi (kecuali kalau dipaksa sama teman saya: itu pun disuruh nonton peristiwa-peristiwa sospol - tsahhhhh! :green: ). Tapi sungguh, saya jarang nonton tipi itu karena letak posisi tipi tidak strategis untuk saya tongkrongin, yaitu terletak di ruang tamu, dan pintu rumah “harus” terbuka. Kok malah curhat ya?
Kembali ke topik menikah. Kenapa ada yang takut menikah? Kalau merasa tidak siap karena faktor ekonomi sih masih terdengar masuk akal - walaupun saya juga ragu-ragu untuk membenarkan, karena ditakutkan para pria mengkategorikan “cukup finansial” untuk menikah adalah pada saat dia bisa memiliki satu rumah, satu mobil, satu apartemen, satu kolam renang, satu perusahaan, dsb dsb. Wah.. ya.. (geleng-geleng kepala sambil minum air putih).
Ada artikel menarik dari sini:
Sedangkan persiapan terakhir adalah kemandiran finansial. Meskipun Islam tidak berorientasi materialistik, berpikir realistik juga dianjurkan. Karena kebutuhan finansial rumah tangga akan terdebit secara kontinu dan banyak variasinya. Untuk membentuk pribadi Islami dalam rumah tangga dan anak-anak perlu pembiayaan, ini realitas yang tak bisa dihindari. Realistik di sini juga bukan berarti muluk-muluk apalagi berlebihan. Finansial rumah tangga yang realistis adalah ekonomi rumah tangga yang dikategorikan layak, bukan kaya tapi bukan pula di bawah garis kelayakan.
Sepakat bulat-bulat.
Lalu mengapa takut menikah? apakah mental yang tidak siap? Sebentar.. saya luruskan.. mental dari sudut manakah yang tidak siap? Gentarkah anda (wanita) untuk dimiliki oleh pria? Takutkah anda (pria) untuk bersanding selamanya dengan wanita? Kalau mental yang seperti ini yang dibicarakan, saya sarankan anda untuk bergegas berkonsultasi dengan pakarnya. Ada apakah dengan anda?
Mencari yang cocok - baik hati, pintar, sabar, lemah lembut, cantik/ganteng, sholeh, gemar menabung, ber-finansial, dsb dsb - adalah hal yang mungkin saja di dapatkan. Kalau anda pun seperti tersebut diatas dan mendapat point rewards dari-Nya, insya Allah. Tapi kalau dia yang berkriteria seperti ini bukanlah jodoh anda. Ini pun harus disyukuri, karena telah diberikan kepastian oleh-Nya bahwa dia bukan yang terbaik. Siapa yang suka dengan ke-ambiguitas-an? Bukan saya, pastinya.
Lalu, tidak lantas menikah dianggap “akhir” dari semuanya. Ibaratnya, kalau sudah menikah berarti sudah aman dan tentram. Aman dari ceramah orangtua dan sanak saudara, dan sudah. Titik. Whupppsss. Tidak bisa diremehkan begitu saja. Karena pernikahan itu akan dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat.
Dan anak-anak akan bertanya dengan ketidaktahuan yang sepolos-polosnya. Apa yang ia dengar sebagai jawaban dari orangtua, itulah yang pertama kali ia ingat. Sebagai seorang wanita, hal yang paling saya takutkan adalah pertanyaan dari anak kecil (baik anak saya nantinya, atau keponakan-keponakan saya) yang saya tidak mengetahui jawabannya. Pun, saya terlupa untuk mencari tahu jawabannya dan menginformasikan kepadanya. Sepengetahuan saya sebagai anak-anak dulunya, pertanyaan-pertanyaan itu akan saya ingat sepanjang masa dan akan saya cari jawabannya, sendiri. Dan sulitnya, kalau anak-anak itu salah menginterpretasikan apa yang ia lihat/dengar.
Huff! Terdengar seperti pekerjaan yang tidak enteng. Betul. Tapi tak terasakah jika pekerjaan sebagai makhluk “single” pun dua kali lebih berat? Ada, tapi harus waspada - demi menjaga dirinya.
Ah.. ada satu hal lagi yang sering saya dengar dari teman-teman saya para pria single. Terkatakan bahwa mereka pun sedang “menanti” pasangan hidup. Saya merasa tersaingi jadinya. Bukankah kalian seharusnya yang “menjemput”? Lha.. kalau pria dan wanita sama-sama menanti lantas ketemunya dimana ya? Jadi para pria, segeralah menjemput bidadarimu. :green:
20 comments:



,
jodoh mmang rhasia yng sulit ditebak
, tdk bisa dicari juga tdak bisa dinanti..
kalo jodoh sudah sa’atnya tiba
, pria tdak hrus mnjemput
dan wnita juga tidak prlu harus menanti
..
Dari sebuah buku:
Jika anda sudah merasa gelisah pada malam-malam yang sepi mencekam tidak ada teman yang mendampingi, inilah saatnya bagi anda untuk menikah…dst.
gue bangget:-P
Kadang-kadang kami tidak tahu dari di mana mitra akan datang. Mengherankan hal bisa terjadi.
keliatane nyindir saya dech.. :eyelash:
ayo menikah
ayo!
Sahabat saya siap menjemput,
tapi siapa bidadarinya ?
ini tulisan nyindir gue banget :eyelash: (lagi sensitif nich soalnya
)
jadi.. saya mao jemput siapa ya…
hmmm… dirimu mau? :green:
Pilihlah jawaban yang benar!
Kenapa orang menikah?
a. kebutuhan biologis/sex
b. melanjutkan keturunan
c. takut dibilang tidak laku
d. takut dibilang ’sakit’ (gay/lesbong)
e. karena bernasib sial dokter yang diujung jalan itu ga ampuh
f. semuanya benar
Salam
begitu lah cinta
penderitaanya tiada akhir
*pat kay mode on*
#8
lha itu komentar
#9
kalo saia pilih jawaban g, untuk ibadah :green:
menikahlah sebelum kalian dinikahkan…
(walah, kok enak banget…
salam kenal,
mi
Menikah itu indah koq. :green:
nikah tuh enak Jeng
walaupun ga bs dipukul rata,tp ada enaknya ada enggaknya. enak bgt klo suami sabar dan mau diajak sharing dan terbuka 
that’s why i love my husband.
Aku cinta dia makkk
Aku sayang dia makk
waduh..menikah lagi nih topiknya
ngomongin masalah nikah memang susah coz setiap insan berbeda pendapat dalam menilai arti pernikahan.
semoga ada org yg tepat buat njemput kamu non, ASAP…amiin
kok judulnya kaya lagu dangdut…?? (baca: menjanda lagiii..) yang begitu reff-nya :P
*maksa mode on*
kirain mau nyebar undangan ternyata
hii lam kenal ya, aku baca-baca artikelnya ya.makasih
Assalamu’alaikum
Makana, kalo dah siap mah…nikah aja