Melayani dari Hati
Ada tag line dari perusahaan tempat saya bekerja dulu:
“Melayani dari Hati”
Sewaktu sosialisasi tag line ini, saya diinformasikan mengenai pentingnya Melayani dari Hati. Anda pernah dengar tulus? (Bukan sejenis umbi). Tulus hati dalam melayani orang lain, maksud saya. Melayani dengan senyum yang tulus terpancar dari hati, menolong tanpa mengharapkan imbalan karena berniat menolong dari hati (red: uang pelicin atau maksud-maksud terselubung lainnya *misalnya: supaya bisa dijadikan pacar* hihihi). Sebuah tag line yang indah, bukan begitu sodara-sodara? Iyah.. begitu.
Efek sampingnya bagaimana? Jelas besar. Terkadang kita lebih memilih untuk duduk di rumah makan yang sederhana tetapi dilayani sepenuh hati oleh si penjual. Padahal makanannya engga enak-enak banget. Lalu, apa yang sebenarnya dicari oleh kastemer (customer)?
Kalau saya tanyakan ini, jelas semuanya akan teriak di telinga saya, “Kualitas!”. Yap! Itu jelas, tak bisa dipungkiri. Tapi saya mulai mempertanyakan di batin saya yang halus bak makhluk halus ini, apakah betul hal itu faktor utama? Benda atau obyek yang berkualitas tinggi itu, apakah betul adalah faktor yang teratas yang bisa memuaskan hati para manusia? Lalu faktor penjual (manusia) berada di posisi manakah? Masih ingat dengan definisi pasar? Yaitu tempat bertemunya saya yang manis (pembeli maksudnya) dengan penjual. Tidak hanya bertemu, tapi juga terjadi transaksi jual beli. Lantas, selain barang dagangan yang dilihat oleh mata pembeli, adakah juga terselip faktor kenyamanan pada saat melakukan interaksi dengan penjual?
Di pasar Slipi, tempat biasa saya bertransaksi (belanja maksudnya), ada seorang ibu yang berperawakan subur yang selalu berjualan buah. Beliau ini bermarkas di dekat tangga yang menuju ke pasar induk. Berhubung usia si ibu masih agak muda, sekitar 30++, maka tidak heran kalau beliau terlihat selalu bersemangat setiap harinya. Bersemangat disini maksudnya, jarang terlihat di titik tempat beliau berjualan, sering mondar-mandir ke tempat para penjual buah lainnya, sangat jarang tersenyum, rambut yang selalu terurai, dan kerap ketus kalau ada yang menawar barang dagangannya (saya pernah kena tuh sekali .. huhuhu).
Lalu, di posisi tengah para penjual buah itu, ada seorang ibu yang punya senyum paling indah untuk pembelinya. Jadi membeli atau tidak, si ibu pasti tersenyum bersahaja. Beliau selalu menggelung rambutnya ke atas dan berpakaian agak ber-kebaya. Intinya rapi jali. Sapaan beliau selalu terdengar kalau saya lewat di depannya. Apalagi kalau saya melirik, wah, luluh oleh senyuman beliau. Setidaknya setengah kilo ini itu deh. Hehe. Oits.. pastinya diskon kalau saya yang beli.
Akhir-akhir ini saya memang di-ribet-kan oleh urusan-urusan seperti ini. Beberapa partisipan yang saya “paksa” untuk mengerjakan kuesioner yang lumayan bikin mata mereka keriting itu dengan tegas, bulat, dan sadis, mengatakan bahwa mereka emoh, ogah, dan tidak mau merekomendasikan outlet tersebut ke manusia manapun di muka bumi ini. Betapa partisipan-partisipan saya itu sakit hati oleh perlakuan si penjual yang tidak sepenuh hati melayani. Menyedihkan. Padahal brand tersebut gaungnya dimana-mana.
Lalu berada dimana titik kepuasan para partisipan saya tersebut? Ternyata dikala si penjual melayani dengan sepenuh hati dan selalu tersenyum sumringah. Ternyata dunia terasa milik berdua walaupun partisipan saya itu disuruh menunggu sekitar 30 menit karena si penjual sedang sibuk dengan yang lain. Ternyata menjadi poin plus, walaupun si penjual hanya mampu membagikan sedikit (seddiiiikiiiiiiitttttttttttt bangetttt) ilmunya kepada partisipan saya itu. Ya ya.. semua juga paham kalau product knowledge itu pentingnya ampun-ampunan. Tapi semua kesimpulan yang saya terima pada akhir kuesioner adalah: Walaupun begitu, saya akan merekomendasikan toko ini kepada rekan-rekan sejerawat saya.
Nah.. ini key point.
Di kehidupan ini, semua hal adalah transaksi jual beli. Baik itu pegawai kantoran, pedagang, dan semua profesi di semua lini kehidupan, adalah suatu transaksi jual beli. Seorang adik yang melayani si kakak dengan menyuguhi makanan-makanan sehat dan enak, walaupun si kakak selalu ngeberantakin dapur (maaf.. saya jadi curhat colongan). Seorang ibu yang melayani keluarga, seorang guru yang melayani murid, seorang pejabat yang melayani rakyat, dan lain-lain. Keuntungan yang terlihat tentu tidak selalu berupa uang. Tetapi jelas terasa. Setidaknya, kakak saya tidak pernah lagi mengeluh maag atau diare.
Lalu, terasa indah saat saya dimaafkan karena telat belanja, atau cuma sempat menggoreng ini dan itu karena telat memasak. Bahkan, demi quality control, tak lupa kakak saya juga suka mengingatkan, “Pedes banget sih”. Walaupun begitu, transaksi di dapur saya terjadi dengan baik. Dan keuntungan yang saya terima adalah dengan melihat kakak saya yang anti masuk dapur itu mencuci piring semalam. Hehehehe.
Dan kesimpulannya adalah, secara data dan fakta, saya sudah menemukan pentingnya untuk melayani dari hati. Jika anda bekerja hanya mengatasnamakan segepok gaji, berpikir bahwa pekerjaan adalah seperti layaknya pe-er sewaktu es-de (yang hanya dikerjakan dari nomor 1 sampai 10 dan menolak mengerjakan latihan-latihan pada catatan kaki), dan pada akhirnya merasa hampa sepanjang jaman.. nah.. mungkin.. anda perlu untuk belajar melayani dari hati.
20 comments:



,
Tulus hati dalam melayani orang lain, maksud saya.
Sincere in serving the other person, my intention.
menolong tanpa mengharapkan imbalan karena berniat menolong dari hati
helped without hoping for the repayment because of intending to help from the heart
Seorang ibu yang melayani keluarga, seorang guru yang melayani murid, seorang pejabat yang melayani rakyat, dan lain-lain.
A mother who served the family, a teacher who served the pupil, an official who served the people, et cetera.
Seorang gadis di kota saya di Rusia membaca kata anda dan setuju dengan anda tentang lautan. Kecanduan anda adalah kecanduan saya. Saya suka pikiran anda dan cara anda menulis - baik di Bahasa dan di bahasa Inggris. Semoga sukses dengan lautan nanti malam, Santi.
Izinkan saya satu lagi pertanyaan - nama saya Santi: Kenapa di blog saya ini banyak komentator dari pria? Pertanyaan saya: Anda tidak suka pada kami untuk berkunjung, Santi? Terakhir pertanyaan untuk sekarang. Besok internasional hari wanita.
Saya mengharapkan anda senang. Selamat malam.
@ jameshigham: Saya tersanjung oleh kunjungan dan pujian anda, James. Terimakasih banyak. Tapi di Jakarta tidak ada lautan. Saya lagi mencari waktu untuk bertemu lautan. Semoga sukses dengan novel anda.
Bukan tidak senang, tapi hanya heran. Hehe. Selamat malam juga.
@ james : dmn2 juga mank rata2 juga bgitu kalee.. apalagi yg pny pinter dan cantik seperti yg punya blog ini…
—————————-
Mba santi, emg ketulusan itulah yg sangat diperlukan didalam melayani seseorang, dan aq rasa, ketulusan itu juga datang dari seberapa besar kita mencintai pekerjaan tersebut… layaknya saat kita mcintai seseorang, hati kita pasti aka kita design untuk mjadi bener2 tulus saat melayani org tersebut… *dduh, ini syndrome menuju 20 nih mbak*
@ anggangelina: mencintai itu kata2 yg tajam.. :eyelash:
syndrome menuju 20.. humm.. rasanya kita udah bicara ttg ini kan ya?
hati2 jaga diri dan hati ya non
*hati2 ditimpuk ajeng kl muji2 saya mulu… kekekekkkkk*
pada dasrnya, segala sesuatu harus dilakukan dengan hati, bukan hanya melayani tapi juga disegala aspek kehidupan.
Kalau bekerja cuma mengharapkan segepok gaji, maka kreativitas kita akan terhambat, dan hasil yang didapat hanya sebatas nominal itu saja.
jadi lakukanlah semua aktivitas anda berdasarkan ketulusan hati, insyaAllah apa yang kamu dapatkan melebihi dari yang kamu bayangkan
Melayani dengan hati..
kayaknya bagus juga buat tagline pemimpin negara ini yah?aduh kok malah ngomongin politik. Ya at least ini bagus buat tagline saya..hehehe
Salam kenal mbak…
Saya baru nemu situs ini dan udah baca2, bagus tapi juga misterius.
Mbak, online business yang dilakukannya apa sih? kebetulan saat ini saya sedang hampir 100% di rumah. Mungkin samapai bbrp bln ke depan, dan tertarik dengan ide ‘kerja di rumah’.
Bagi2 infonya mbak ya…
please…………………
YM dan e-mailnya mbak?
thanks
mbak, imel saya yang betul ini nih
imelagus@yahoo.com
@ Febra: sayah sepakat bulat sama febra :eyelash:
@ stey: juga buat manusia, seharusnya sih.. hehe
@ Bagus: wah.. ga usah pake “please” gitu dong mas.. hehe.. dengan senang hati saya informasikan setahu saya.. :cool:
mana? aku minta talesnya….?
Terimakasih banyak, Santi, anggangelina, dictionary is not working.
Pernah dengar teory air yang berubah komposisinya penelitian dari seorang ilmuwan jepang ????
Jeng gw mau ke pasar slipi neh bareng yu kan kalau ama elo dapet murah, sebab elo kan paling pinter menawar dari hati he..he..he..
Oleh sebab itu, Febra - jangan bolehkan daya cipta mati…
@ dede: ye.. :p
@ boedy: yupp..
@ mas landy: aeaehaehahea.. bisa aja kamu mas
@ james: setuju dengan anda
Kamu mau tidak menggantikan posisikuh? melayani dari hati di hari libur bahkan di hari raya sekalipun :eyelash: :hehe:
@ tante tobil: ogahhhhhhhhhhhhhhh! enak aja lo, jeng! :hehe:
kan ini topiknya melayani dari hati, bukannya bekerja pada hari libur. do’oh.. :worried:
tuh kan ..gitu aja ngedumel… apalagi kalo disuruh kerja hari minggu demi makhluk2 kecil yang katanya lo cintai itu..!!
:hehe: :eyelash:
Seperti motto mee kami
“menyajikan mie dengan sepenuh hati”