Menjelang Tengah Malam

Apakah anda sudah merasa komputer/notebook dan internet seolah-olah memiliki arti seperti listrik? Seperti layaknya anda tidak mungkin bisa menikmati segelas minuman dingin yang melegakan tenggorokan? Atau tidak bisa membaca buku dengan penerangan yang membuat mata nyaman? Atau harus melepaskan “kenikmatan” dari rice cooker yang sanggup menanak nasi dengan cara pintar?

Listrik memang penting. Tapi bukan berarti tidak ada listrik maka tidak bisa hidup. Sewaktu listrik mati, kita masih bisa menikmati minuman dingin pelega tenggorokan. Jawabannya adalah dengan mengisi air minum ke kendi dari tembikar itu. Juga bisa membaca buku dengan penerangan yang membuat mata nyaman. Caranya dengan tidak membaca buku di malam hari tentunya. Atau dengan menggunakan lampu minyak yang lebih dari satu. Pun, kita masih bisa menikmati nasi hangat. Dengan menggunakan panci untuk menanak nasi pastinya. Tapi jika anda (dan saya) disuruh untuk memilih antara listrik dan tidak ada listrik, dipastikan kita akan berteriak…. “Leeesstreeeekkkk!”

Di jaman edan maju ini, komputerisasi dan internet nyaris sudah seperti garam di masakan, bahkan mungkin akan menjadi crucial seperti listrik nantinya. Di tempat kerja saya terdahulu, salah satu departemen yang menamakan dirinya Change Agent mengadakan program filing yang terkomputerisasi dengan memfungsikan server di group IT yang katanya gagah perkasa itu. Tujuannya ya apalagi kalau bukan untuk efisiensi. Sebagian “rakyat” menyambut program tersebut dengan tepukan tangan, sebagian lagi dengan muka datar sambil mengangguk-anggukkan kepala, dan sebagiannya lagi dengan muka pucat.

Apa yang terjadi pada saat pelaksanaan? Ternyata program tersebut belum bisa diterapkan 100%. Ternyata banyak yang tidak bisa menggunakan scanner. Ternyata masih ada yang beranggapan kalau salah klik di komputer nanti komputer bisa rusak atau meledak. Ternyata banyak atasan-atasan (termasuk atasan saya dulu) yang malas buka komputer dan email.

Akibatnya, paperless documentation adalah hil yang mustahal. Seringkali saya tersenyum pahit manakala si atasan lebih memilih kertas printed yang full color daripada melihat file tersebut dari adobe reader, misalnya. (Pengeluaran untuk hal kecil, seperti tinta printer yang full color dan kerta A4, selama satu tahun dan untuk satu departemen itu ternyata seharga… (lupa).. pokoknya mending dibagikan ke “rakyat” yang membutuhkan penambahan gaji atau bonus yang terus-terusan disunat setiap tahunnya).

Untung departemen CA tersebut tidak patah semangat dalam programnya. Dengan penuh kesabaran dan sesekali mengurut dada, mereka men-terapi psikologis “rakyat” yang geleuh dan takut dengan perlengkapan kantor yang mendukung program tersebut seperti komputer dan scanner. Juga terkadang berbicara dari hati-ke-hati dengan atasan-atasan yang nakal. Sebagian berhasil, sebagiannya lagi ya tentu tidak dong.

Saya dulunya termasuk “rakyat” yang adem ayem tentang masalah ini. Sebagai “rakyat” yang baik hatinya, jelas saya mendukung efisiensi. Tapi saya pun terkadang harus menahan pil pahit manakala si atasan tidak kooperatif. Dan sebagai “rakyat” di “negara” yang tidak demokrasi itu, jelas saya memiliki keterbatasan dalam masalah ketidakpatuhan beliau dalam program yang disepakati oleh beliau sendiri dan sesepuh-sesepuh lainnya di “negara” tersebut. Payah..

Sebelum saya mulai lancang mengalih-alihkan topik dan membuat anda semakin bingung tentang maksud penulisan postingan saya kali ini, pada intinya saya hanya ingin menyampaikan; pergunakanlah teknologi dengan “semaksimal” dan “se-optimal” mungkin.

Seperti listrik yang dapat kita gunakan dengan hal-hal yang bermanfaat, pun demikian dengan teknologi yang sekarang anda pakai untuk membuka dan membaca blog saya ini. Tuangkan ide-ide anda dan kembangkan diri anda dengan fasilitas tersebut. Jangan sia-siakan kesempatan dan jangan terlena dengan “zona aman”. Terkadang kesempatan tidak datang dengan sendirinya, namun andalah sendiri yang harus bersusah payah menjemputnya di persimpangan Slipi (hihihi.. mulai meracau).

5 comments:

  1. yhadee, 7. February 2008, 21:29

    :roll: klo tekhnologi tnpa listrik gmana ya? :angry: lahh ko nanya lagi!.. tapii.. dlu juga pra filosofis udah bisa ngitung bintang biarpun blum ada listrik!.. :marked: yaa.. wallahu a’lam!..

     
  2. selfpag3, 7. February 2008, 21:37

    humm.. bisa tuh mas, teknologi tanpa listrik.. pun tak kalah canggih sama yg pake listrik :D

     
  3. Kurawa11, 8. February 2008, 3:06

    Wah gimana tuh teknologi tanpa listrik :-? gak ngarti ah

     
  4. Tobil Anak Kadal, 8. February 2008, 16:56

    jadi kesimpulannya?
    CA masih dianggap mimpi buruk ya?heuhueueue
    sabar dunk nyonya meneer…kan butuh proses untuk orang-orang yang bilang lo bilang pemalas itu untuk mengerti tehnolohi en bsahabat sm teteh itu =p
    :roll: tp akuh setubuh dengan sasaran efisiensinya kok nya, ketimbang ada pos untuk nyediain kertas en tinta tiap bulan mending dialokasikeun ke gaji karyawan ;)

     
  5. selfpag3, 8. February 2008, 19:38

    @ kurawa11: hehehe ada mas. contohnya yg kyk mas yhadee bilang itu :D

    @ si tobil: hehe, iyah dulu.. di kantor gw yg dulu ituhhh :eyelash:
    ndak, gw gak bilang mereka yg gak paham teknologi itu pemalas jeng. cuma gw prihatin sama bos2nya itu. yg heboh menggemakan efisiensi tapi dirinya sendiri ndak paham apa itu efisiensi. lha gimana rakyatnya bisa nyontoh? :devil:

     
:rose: :wink: :tears: :?: :girl: >:) :D (:| B-) @-) :- :-> 8-} :puke: :-h :chicken: =(( :-f /:) :)) :-B :(( :bald: :nerd: :skull: :-j #-o :-? :funny: :-< :blush2: #:-S :boy: :bow: :^O :) :-S :-e :-* :idea: :mad: :wtf: :-/ :alien: ;;) =)) :pray: :!: ;) :-SS :( :d :D/ :x 8-> [-( :monkey: :lol: :money: =D> I-) :party: :drool: =; :h :)] :g :flat: :dunno: :-$ :blushing: :-v ~x( :pumpkin: X-( :stars: :| :arrow: :roll: ;)) 8-| :devil: :-w :cow: L-) :-c :o) :mrgreen: :-m O:-) :alien1: >:P :devilish: :-p <):) :-O

Write a comment: