Bingung
Apa bedanya halangan/cobaan sama pertanda/petunjuk? Ada yang tau?
Kalau saya pikir-pikir (berhubung otak ini engga gede-gede banget, jadi maafkan kalo salah ya), saya engga akan tau kalau itu halangan/cobaan atau pertanda/petunjuk sampai terjadi suatu keputusan. Yang saya tau, keputusan (dan proses pengambilan keputusan) itulah yang nanti mengarahkan saya untuk mengambil kesimpulan apakah itu cobaan atau pertanda dari Ilahi. Satu hal yang pasti, saya ini rada susah menerapkan prinsip “dijalani aja” atau bahasa kerennya Let it Flow. Beneran susah. Yang saya lakukan adalah terus berpikir apakah keputusan yang akan diambil itu tepat. Apa faktor-faktor yang mendukung keputusan ini. Apa loss dan benefit dari keputusan ini. Mau tau hasilnya?
Seringkali saya dibikin bingung sama hasil pemikiran saya yang engga seberapa itu. Karena ternyata membuat komparasi itu sulitnya bukan main. Apalagi kalau poinnya seimbang. Walaupun selalu meminta petunjuk dan kemudahan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tapi tetap saja kalimat keputusan itu keluar dari mulut saya.
Intinya, pastinya ada sinkronisasi antara otak, hati nurani dan perkataan. Di satu titik, saya (mencoba) pasrah dan ikhlas terhadap semua hal yang akan menimpa saya, inshaAllah. Tapi berusaha itu juga diperlukan, bukan begitu? Yang membuat saya bertanya-tanya adalah kapan saya harus berhenti berusaha dan menerima dengan ikhlas.
Saking bingungnya, hal ini pernah saya tanyakan kepada guru saya. Guru saya tersebut menjawab bahwa kita harus terus berusaha, sungguh-sungguh berusaha, sampai kepada satu titik pemahaman “Oh.. ini dia jawabannya”. Emang sih, saya engga spesifik banget nanya ke guru saya itu. Padahal pertanyaan saya yang sesungguhnya itu lebih kompleks dari itu.
Misalnya..
Sampai kapan saya harus nunggu abang bubur ayam gerobak datang? Apakah boleh disambi sambil makan cemilan pisang goreng? Ntar kalo saya udah kenyang makan cemilan pisang goreng gimana? Kan kasian abang bubur ayam gerobaknya karena kehilangan satu pembeli yang keren banget ini. Mana tadi udah janjian buat beli bubur ayamnya. Padahal saya engga janjian loh sama abang pisang goreng itu. Cuma kebetulan aja dia nongkrong dekat rumah sambil ngegoreng pisang² yang gemuk² itu. Dan kemungkinan terburuknya adalah saya bisa jadi stop langganan bubur ayam dan beralih ke pisang goreng.
Jadi, apakah saya harus ikhlas menerima keadaan yang sedang kelaparan ini dan bersabar nungguin bubur ayam itu datang (biasanya sih jam tujuh pagi). Atau mencoba cemilan baru, yaitu pisang goreng, sambil berdoa semoga abang bubur ayam mendapatkan pembeli lain yang kekerenannya mendekati saya? hihihihi :green:
Kok ya jadi ngelantur gini? Ah pokoknya saya bingung. Keputusan ditunggu malam ini juga!
8 comments:



,
analoginya masih ada yang kurang. klo cuma antara tukang bubur dan gorengan di saat perut laper, ya..sapa yang datang ya kita ambil duluan…masak sesuatu yang belum tentu datang kita tunggu padahal lapernya kan sekarang, bukan besok apalagi lusa dan tahun depan…
Tapi ada hal lain yang juga perlu diperhatikan. tentang kepastian. nih susah dilogikakan (ato karena saya nggak nemukan logikanya). Contohnya soal jodoh, rejeki dan kematian. Ini sesuatu yang dah pasti ketentuannya. Nggak bisa ditawar-tawar. dan logikanya nggak akan nyambung dengan pengibaratan spt diatas. karena ini bukan tentang pilihan. Belum tentu yang baik menurut kita itu merupakan ketentuanNya. belum tentu keinginan kita membagi rejeki pada tukang bubur ayam merupakan ketentuan pembagian rejeki dariNya. Bisa jadi melalui laper anda, Allah menentukan rejeki (melalui anda) utk tukang gorengan pisang. Itu kepastian. Ato, misalnya anda dihadapkan pada beberapa pangeran tampan utk dijadikan suami, tapi karena Allah telah memilihkan (suami) anda bukan dengan salah satu diantara pangeran tampan dihadapan anda, ya tetap aja anda nggak akan memilih diantara mereka. Intinya disini adalah keyakinan dan ke-tidak-putus-asa-an anda pada ketetapanNya. maka ada benarnya juga kata guru anda “berusahalah sampai benar-benar menemukan akhir jawaban (yang kadang tidak seideal yang kita bayangkan)” dan pastinya melalui serangkaian ujian, kesabaran, dan, tantangan…
Semoga nggak salah jawab
Salam dari (yang tersesat di) BATAM
Kl gw makan pisang goreng dulu terus makan bubur ayam lagi deh, wong laper koq
Kl lihat comment dari Agus, satuju banget deh gw
Coba lo bayangin deh, lo dah niat beli pisang goreng krn bubur ayam belon datang jg, pas mo beliiii, ehh tuh pisang goreng dah habiss ( ga niat jualan lg ) atau pas lo dah beli, baru tinggalin tuh pisang goreng di atas meja, dah abiss aja dimakan ama orang rumah :D. Atau akhirnya lo berhasil coba jg tuh pisang goreng pada hari itu, tp kan ga bakal jamin lo jadi langganan ama tuh ama Abang pisang goreng kan ?, atau tiba2 tuh pd pagi hari ada yg bawaain lo oleh2 misal donat, jadinya lo jg bakal ga menyentuh pisang goreng & bubur Ayam, besok2nya ada lg yg bawain lo gorengan krn temen2 lo pada datang pagi hari itu. Jadinya seminggu sarapan pagi pake gorengan :D.
Koq analogi makanan ini jd ribet sendiri ?, tp menurut gw yaaa bener kata Guru lo, berusahalahh terus sampai menemukan akhir jawaban trsbt
Mungkin bisa minta pentujuk ama yg DIATAS enaknya sarapan pagi pake apaaan ?, terkadang doa kita ga langsung di kasih jawaban looohh. Biasanya yg timbul adalah rasa tenang. “Rasa tenang” tuk menjalani itu semua ………….
BTW, kayaknya enakkan Mie Celor deh dibanding Bubur Ayam & pisang goreng
msalah tkng bubur / tkng gorengan pisang kan udah Alloh atur rizkinya, tpi klo urusn perut ya makan apa aja yang ada duluan, yng pnting jngan nyolong mkanan ttangga / tkng nasi uduk..
:p wassalam…
wah bagus neh…

kebingungan menimbulkan pencarian
semoga cepat mendapatkan jawaban/petunjuk Nya yah.
Amien…
ada lah cerita omong kosong gini;
tersebut lah seorang alim yang rajin sembahyang yang suatu hari kampungnya kebanjiran, ia mulai panik dan naik ke atas genteng ketika rumahnya mulai terendam banjir.
warga mulai mengungsi dan dia hanya berdoa terhadap Tuhan nya agar banjir segera reda dan rumahnya aman kembali, perahu tim sar datang mengajak mengungsi tapi ia tolak karena yakin banjir akan surut dan ia tetap di rumahnya, tak ada yang ia lakukan selain berdoa, helikopter pun datang siap untuk mengungsikan, tapi tetap ia tolak karena karena keyakinan nya, pun terhadap warga lain yang siap membantu.
hingga akhirnya rumah itu terendam dan ia ikut meninggal terendam.
lalu ia bertemu Tuhan dan berkeluh kesah, kenapa ia tidak di tolong, lalu Tuhan menjawab; “sudah Aku kirim berbagai bantuan kenapa selalu kau tolak, lalu apa jasamu terhadap Tuhan sehingga doa mu harus di dahulukan?”
ahahaha, bingung ya?…nungging aja dulu tet…
tp biasanya sih …kasus2lo yg lo bingungin sesuai tajuk artikel ini (gak penting.red) :green: hihihihi
kl soal tukang jualan, suruh dtg ke rumah gue aja tet, gue kan predator yg keren juga!! muah muah!! :cool: :eyelash:
btw, agus cuprit, jeli banget ya review nya
buat neng ato jeng ajeng…review apanya? salam kenal deh..
I see.
Keren banget ini.Kopas ah…