Reaktif, Bukan Preventif

Saya terima email yang menarik. Isinya tentang beberapa Hak Paten yang di klaim oleh negara tetangga beberapa waktu yang lalu.

Terus terang, saya senang dengan pemberitaan itu. Akhirnya Indonesia mulai kesetrum untuk mikir tentang bangsa. Terutama tentang satu kata yang sudah lama kita lupain, Kontribusi!.

Pemberitaan ini heboh di hampir setiap mailing list dan blog. Saya juga iseng-iseng sih cari data/fakta mengenai ini. Hmm ya.. sepertinya memang ada yang berhasil di patenkan. Tapi sepertinya juga ada yang tidak/belum. Dan sepertinya “pertikaian” tentang hak paten ini sudah berlangsung lama. Jadi, negara tetangga tsb bukan negara pertama. Lagipula, pematenan itu bisa dibatalkan kok (kalau ada bukti-bukti yang menguatkan tentunya).

Saya baca artikel di website dan menemukan pertanyaan yang seharusnya ditanyakan ke setiap manusia yang merasa bertanah air Indonesia:

Kenapa langkah kita selalu bersifat reaktif, bukan preventif?

Mengerikan sekali kalau ternyata itu sudah menjadi mentalitas kita. Sudah ada gejala-gejalanya kah? Negara sekaya ini (apa coba yang kita gak punya? dari emas sampe kunyit segala ada!) tapi kita seperti gak gitu peduli. Baru mulai berang, mencak-mencak, keluar taring, kalo ada yang “nyenggol”. Tapi sesudah itu, balik lagi ke sarang, tidur.

Oke lah, kalo pemerintah dirasa kurang begitu bisa support. Mungkin dengan regulasi-regulasi yang dirasa kurang bijak sehingga memicu demonstran untuk gelar tikar di gedung MPR/DPR. Tapi personally, setidaknya ada hal-hal yang bisa diberikan toh. Gak usah nunggu pemerintah yang kebanyakan prosedur dan protokol (kadang-kadang).

Slogan Cintailah produk dalam negeri kayaknya cuma berakhir menjadi slogan biasa aja. Menurut saya sih harusnya slogannya itu Cintailah negeri ini. Kalo cinta secara keseluruhan begitu kan otomatis cinta produknya juga. Sayang banget saya nyaris gak pernah liat slogan ini di billboard2 di Jakarta. Entah deh kalo di daerah lain gimana.

Nasionalisme dianggap hal yang ajaib, seolah-olah hal itu sangat luar biasa. Padahal seharusnya nasionalisme itu sudah mengalir di darah kita, toh kakek buyut kita berpartisipasi untuk kemerdekaan (gak mesti pejuang yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan lho).

Kesimpulannya adalah, saya senang liat respon dari teman-teman sebangsa tentang pemberitaan tadi. Semoga tidak berakhir dengan komentar2; “Waaaah!”, “Kok gitu sih?”, “Gak terima!”, “Sialan”, “Nyebelin!”, dan sebagainya. Semoga terpikir untuk DO something dan mulai ACTION. MERDEKA!

No comments yet.

:rose: :wink: :tears: :?: :girl: >:) :D (:| B-) @-) :- :-> 8-} :puke: :-h :chicken: =(( :-f /:) :)) :-B :(( :bald: :nerd: :skull: :-j #-o :-? :funny: :-< :blush2: #:-S :boy: :bow: :^O :) :-S :-e :-* :idea: :mad: :wtf: :-/ :alien: ;;) =)) :pray: :!: ;) :-SS :( :d :D/ :x 8-> [-( :monkey: :lol: :money: =D> I-) :party: :drool: =; :h :)] :g :flat: :dunno: :-$ :blushing: :-v ~x( :pumpkin: X-( :stars: :| :arrow: :roll: ;)) 8-| :devil: :-w :cow: L-) :-c :o) :mrgreen: :-m O:-) :alien1: >:P :devilish: :-p <):) :-O

Write a comment: