Bertapa
Dulu saya sering banget bertapa. “Dulu” disini maksudnya sewaktu saya masih SMA dan kuliah, dan “bertapa” maksudnya keluar dari lingkaran rutinitas untuk sementara waktu. Entah itu dari kampus, dari Jakarta, dari teman-teman (hehehe), dll, untuk kemudian memikirkan sejenak tentang diri sendiri. Mengenal lagi “siapakah aku” dan meng-update gosip-gosip dari hati nurani. Hasil dari pertapaan biasanya berupa puisi (hehe). Tapi sering juga cuma berupa perenungan aja (tidak dicatat dalam bentuk catatan harian karena saya kapok - catatan harian sering dibaca oleh orang lain seolah-olah itu adalah novel! Kan ada nama-nama oknum disitu! huhh!).
Sudah nyaris setahun saya tidak bertapa (terakhir waktu tahun baru kemarin). Ternyata efek sampingnya lumayan besar. Saya kangen sama diri saya. Pengen denger gosip-gosip si hati nurani lagi. Pengen mengkritik dan menasehati diri sendiri lagi. Pengen interview sama hati. Pengen.. pengen..
Pengen melepas semua kesedihan karena udah nyaris ngilu sampai ke tulang. Saya hanya mau bersikap “wajar”. Di satu sisi memang action itu diperlukan. Tapi tidak selamanya itu bisa digunakan untuk kebaikan semua orang kan? Pada saat ini, saya merasa bahwasanya saya harus step back beberapa langkah (kira-kira 200KM kebelakang deh). Kembali menjadi pengamat. Tidak kurang, tetapi bisa jadi lebih kalau ternyata situasi membutuhkan saya untuk menjadi pemain lagi.
Argh.. pengen liburan..
(tambahan)
Tidur jam 7 pagi (dan bangun jam 11) ternyata sukses buat kepala saya rada migrain. Gara-gara ngiris bawang, alhasil sekarang tambah migrain. 
No comments yet.



,