Atas Nama Cinta
Tadi saya ke Gene’s, seperti biasa. Ngobrol-ngobrol, ketawa-ketiwi, print sana-print sini, dan lanjut ngobrol di mobil (dianterin pulang lagi! horee!!).
Gene cerita, salah satu pegawai tempat client kita (salah satu Spa di Jakarta) ngajak curhat tentang masalah overseas-but-cyber-boyfriend. Ceritanya si pacar adalah seorang American yang berprofesi sebagai Angkatan Darat di sana. Dan bulan Desember ini mau datang ke Indonesia dalam rangka melamar si perempuan.
Dia (perempuan) minta saran dari Gene (mentang-mentang si Gene ini Canadian yang tinggal di Indonesia kurang lebih 20 tahunan kali ye). Si perempuan ini juga mengajak Gene untuk minum kopi bareng kalau si boyfriend dateng ke Indonesia. Hohoho.. Gene tentu saja dengan senang hati menerima ajakan itu (ya iya lah! saya juga minta terus di update tentang masalah ini.. hihihi).
Komentar Gene, “These guys just don’t realize what they’re asking for. Don’t they know that they’re asking her to leave Indonesia for good? To leave her family, culture and everything with only one simple reason, in the name of LOVE?”
Saya cuma nyengir kuda aja. Dalam hati sih, “But Gene.. you’re the Canadian who lives in Indonesia like for good. Hihihihi.”
Okay, jadi emang sih kadangkala Cinta terlalu dibesar-besarkan. Meninggalkan negara tercinta selama-lamanya (kecuali pada saat liburan dan punya rezeki cukup untuk mengunjungi kampung halaman) hanya atas nama Cinta kadang terdengar seperti kabar buruk. Contoh kasus: Katanya sih Cinta.. tapi kalau terjadi kekerasan rumah tangga gimana? Sedangkan si perempuan lagi di negeri orang tanpa satupun kerabat dan teman. Bahkan secara financial juga tergantung sepenuhnya kepada laki-laki. Wah.. kacau meracau.
Tapi..
Di satu sisi..
Ada beberapa contoh pernikahan yang awalnya dari online/cyber yang benar-benar berhasil (maksudnya: si istri yang orang Indonesia tinggal di LN bahagia lahir bathin dan sejahtera).
Saya tidak pro atau kontra tentang cyber relationship. Tapi kalau boleh kasih komentar sih (boleh dong ya.. wong ini blog saya kok! hehe), ada baiknya perempuan-perempuan tidak termakan sama tipu daya rayuan pulau kelapa laki-laki (entah itu dari cyber kek, tetangga sebelah rumah kek, temen kantor kek, dll). Cross-check itu perlu. Kata-kata cinta itu tidak bisa dipertanggungjawabkan secara hukum. Mencari tahu tentang informasi yang berkenaan tentang si calon juga sepertinya tidak merugikan (malah menguntungkan). Jatuh cinta itu sebenarnya gampang. Yang susah itu konsisten dengan komitmen yang sudah dibuat. Menurut saya, lebih penting untuk membuktikan kalau pasangan adalah partner yang bisa diajak kerjasama daripada pasangan yang bisa membuat semua perempuan melirik dengki karena ketampanannya yang luarrr biasaaa.
Udah ya.. segitu aja komentarnya.. hehe.
3 comments:



,
komentar gene ada benernya juga,
aku setuju,,,,
km para cowo kadang ga ngerti apa yg kami minta….
walau dalam pikiran kami selalu terjadi “penilaian”, this is more worthfull nor otherwise…
tpi cara penilaian cewe ama cowo kn beda….
…
ada pepatah
bagi cowo : pernikahan adalah harga untuk sex
tpi bagi cewe :
sex adalah harga untuk pernikahan….
nah…. ?????
( btw, aku juga pernah buat post dgn judul ini :P )
tapi menurut saya pertimbangan ‘ga malu-maluin kalo dibawa ke kawinan’ juga penting…
hehehe :P
maksute yang gak rakus makan ya? :green: